Revitalisasi Pembangunan Sektor Pertanian dan Perikanan Sulawesi Tenggara dalam Meningkatkan Produksi dan Kesejahteraan Petani/Nelayan

  • home -
  • Revitalisasi Pembangunan Sektor Pertania...
research
  • 13 Oct
  • 2015

Revitalisasi Pembangunan Sektor Pertanian dan Perikanan Sulawesi Tenggara dalam Meningkatkan Produksi dan Kesejahteraan Petani/Nelayan

Kendari-UMK. Jumat 2 Oktober 2015 Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Kendari bersama Pusat Studi Ekonomi dan bisnis FEB UHO menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Aula Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) perwakilan Sulawesi Tenggara dengan tajuk “Revitalisasi Pembangunan Sektor Pertanian dan Perikanan Sulawesi Tenggara dalam Meningkatkan Produksi dan Kesejahteraan Petani/Nelayan”. Hadir dalam acara tersebut  La Ode Nusriadi yang menjabat sebagai Auditor IIB BPK RI, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Tenggara  Dian Nugraha,  Abdul Rahman Farisi yang merupakan Akademisi dari Universitas Hasanuddin Makassar sebagai pembicara yang di pandu langsung oleh dekan Fakultas Ekonomi UMK Syamsul Anam.

Sebagai pengantar dalam diskusi itu rahman (Sapaan Abdul Rahman Farisi) menyampaikan secara detail tentang Indikator Sosial Ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir petumbuhan ekonomi kita relative lebih baik, pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dibading nasional. Tahun 2013 memang terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi tenggara tetapi angka itu masih berada diatas pertumbuhan nasional ungkap beliau.

Rahman menambahkan bahwa yang harus kita perhatikan adalah bagaimana efek dari pertumbuhan itu apakah berimplikasi pada penurunan angka kemiskinan dan mengurangi tingkat pengangguran atau tidak. Saat ini PDRB perkapita kita juga relative lebih rendah dibanding nasional. PDRB perkapita Kita sebesar 15.785 rupiah dan nasional sebesar 33.748 rupiah (data 2012). kita tiga kali lebih rendah ungkapnya.

Ditambahkan oleh  Dian Nugraha terkait permasalahn pertanian kita bahwa setidaknya kita memiliki 9 permasalahan disektor pertanian. Diantaranya, lemahnya kelembagaan dan posisi tawar petani yang mengakibatkan pada panjangnya tataniaga dan belum adilnya dalam system pemasaran. Akses petani terhadap modal masih rendah, hingga pada rendahnya daya saing kapal nelayan sultra dibandingkan dengan kapal nelayan didaerah lain.

Bank Indonesia sangat mendukung revitalisasi disektor pertaninan karena dapat membantu pengendalian inflasi dari sisis Supply . kita memiliki tiga fase dalam pengendalian inflasi. Fase pertama Membangun Sinergi, Fase Kedua, memantapkan langkah, Fase Ketiga, Menjaga Komitmen imbuh Dian.

Dalam diskusi itu juga diikuti oleh dinas dan lembaga keuangan di wilayah Sulawesi tenggara. “Kami tidak lagi memberikan bantuan dalam bentuk dana tunai kepada masyarakat nelayan saat ini, sebab jarang dana itu tepat sasaran bahkan tidak digunakan untuk membiayai atau memodali kegiatan mencari ikan ungakap Nining dari dinas kelautan dan dan perikanan kota kendari.

Dalam waktu dekat yang harus diperhatikan adalah bagaimana ketersediaan prodak pertanian atau perikanan yang betul betul tersedia pasarnya sembari memberikan pembimbingan kepada para petani dan nelayan untuk meningkatkan produktivitasnya.

Kebiasaan kita selama ini, pokonya kita sembarang produksi barang pada saat mau dijual tidak ada pasarnya. Bisa nda kita balik itu, kita memproduksi barang yang permintaan pasarnya bagus ungkap Anas Nikoyan dalam diskusi tersebut.