Seminar Ekonomi BEM FEBI UMK: Performa Perekonomian Sulawesi Tenggara dan Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

  • home -
  • Seminar Ekonomi BEM FEBI UMK: Performa P...
research
  • 08 Aug
  • 2018

Seminar Ekonomi BEM FEBI UMK: Performa Perekonomian Sulawesi Tenggara dan Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Kendari_FEBI UMK- Performa Perekonomian Sulawesi Tenggara baik ditingkatan nasional. demikian yang disampaikan oleh Bayu Kariastanto Kepala Bagian Departemen Stabilitas Sistem Keuangan dan Statisitik Sektor Jasa Keuangan OJK Sultra dalam Seminar Ekonomi yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari (7/8/2018).

Seminar ekonomi tersebut mengambil tajuk Peran Lembaga Keuangan dalam Mengatasi Terjadinya Depresiasi Rupiah Dalam Upaya Meningkatkan Ekonomi Sulawesi Tenggara. Seminar ini diselenggarakan di gedung Islamic Centre UMK dan dibuka resmi oleh ketua Program Studi Ilmu Manajemen Bapak La Ode Alimusa,SE.,M.Si.

Bayu menegaskan bahwa ekonomi Sulawesi tumbuh diatas rata-rata nasional dalam kurun waktu 2011 hingga 2017. Sulawesi Tenggara menjadi salah satu dari 3 provinsi yang menjadi pendorong utama kenaikan pertumbuhann ekonomi pulau Sulawesi.

Bappenas mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi 4 pulau di Indonesia, yaitu 3.9 persen pulau Kalimantan, 4.8 persen pulau Sumatera, 5.9 persen pulau Jawad dan 7.8 persen pulau Sulawesi. Sementara nasional hanya tumbuh rata-rata 5.4 persen pertahun dalam tujuh tahun terahir. Membaiknya ekonomi Sulawesi tidak terlepasa dari sektor pertanian yang terus mendukung berkembangnya sektor industry, dimana sektor tersebut tumbuh rata-rata 9.1 persen pertahun dan sektor pertanian tumbuh 5.7 persen pertahun.

Pada Seminar Ekonomi tersebut bayu juga menyoal peran SJK ditengah kenaikan suku bunga global dan trade war. Menurutnya likuiditas dan stabilitas sector jasa keuangan masih terjaga ditengah pelemahan yang terjadi di pasar keuangan yang dipicu oleh sentiment global maupun domesitik.

Dalam pemaparannya, dia juga menjelaskan beberapa sentiment yang perlu terus dicermati yaitu berlanjutnya perang dagang antara AS dengan Tiongkok, Price In Kenaikan FFR di Bulan September 2018 dan Rilis data domestic. Dalam jangka pendek kebijakan OJK akan memantau pergerakan pasar dan akan mengambil kebijakan yang diperlukan apabila tekanan berlanjut. Kedua menjaga transaksi pasar tetap efisien. Sementra dalam jangka panjang OJK akan membantu meningkatkan daya saing perekonomian baik peningkatan fungsi intermediasi dengan ekspor, infrastruktur, pariwisata, pendalaman pasar maupun infrastruktur pasar itu sendiri.

Sebagai penutup pada Seminar ekonomi BEM FEBI UMK, Bayu menilai dalam kondisi melemahnya nilai tukar saat ini, Indoneisa tidak perlu menaikan suku bunga.

Sebelum meninggalkan lokasi Seminar Ekonomi, Rombongan dari OJK dan Bank Indonesia KPw Sultra meninjau Galeri Investasi dan Sekolah Pasar Modal di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari. (Yus)