Faisal Basri, MA membawakan kuliah Umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari dengan tema Kualitas Pertumbuhan Ekonomi: Adakah Asa Bagi Daerah (17/04/2018). Lebih dari 300 orang peserta memenuhi ruang Gedung Islamic Centre Tempat kuliah umum itu deselenggarakan. Kuliah umum tersebut tidak hanya diikuti oleh civitas akademika UMK. Akan tetapi juga dihadiri oleh belasan mahasiswa dan beberapa dosen dari kampus lain seperti UHO dan IAIN Kendari.
Kuliah umum ini dibuka langsung oleh Rektor universitas Muhammadiyah Kendari Bapak Muhammad Nur, SP.,MP.
Dalam sambutannya yang singkat beliau menyampaikan terima kasih atas kesediaan bapak Faisal yang ditengah kesibukan beliau, berkenaan menghadiri undangan untuk membawakan kuliah umum di Kendari. Disisi lain rektor berpesan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang menghadiri kuliah umum bahwa ini merupakan peluang dan momentum untuk berdiskusi, lebih khusus untuk memahami kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sejauh ini kita masih disuguhkan dengan angka-angka (kuantitas) saja.
Faisal Basri, MA (Narasumber) merupakan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Beliau juga adalah peneliti INDEF dan juga seorang pengamat ekonomi indoneisa.
Bapak Faisal mengawali kuliah umum ini dengan memberikan pandangan bahwa untuk memahami ekonomi dengan mudah adalah haruslah memahami anatomi tubuh manusia. Bagaimana dia bekerja dan berfungsi hingga tumbuh itu bisa berjalan normal. Negara atau bangsa sama halnya dengan tubuh manusia, tuturnya.
Tubuh manusia dikatakan normal bila seluruh elemen dari tubuh itu berfungsi dan bekerja secara normal. Hati, jantung, darah bekerja dan lainnya bekerja dengan normal. Layaknya suatu negara bila elemen-elemenya bekerja dengan normal maka negara itu akan berjalan dan tumbuh secara baik/normal. Perbankan, inflasi, uang bekerja dan beredar secara normal maka negara itu boleh dikatakan sehat.
Perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tumbuh namun sangat lesu, tuturnya
Pada kuliah umum tersebut dia memperlihatkan data bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh dengan lesu yang hingga tahun 2017 haya tumbuh 5.1 persen. Sejak tahun 2013 pertumbuhan ekonomi indoneisa hanya berada dikisaran 5 persen saja.
Faisal basri juga menyoroti banyaknya tenaga kerja asing yang masuk di Sulawesi Tenggara. Disatu sisi penolakan atas kondisi itu menurut dia tidak dilakukan. Dia juga menghimbau agar Sulawesi Tenggara menjadikan sektor perikanan dan pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonominya. Jangan terlena dan menggantungkan diri hanya pada sektor pertambangan dan mulai membangun dan mengembangkan industry-industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan didaerah agar memiliki nilai tambah yang besar dan bisa berimplikasi lansung pada kesejahteraan masyarakat.
Sulawesi Tenggara perlu menggenjot sektor industry manufaktur, tegasnya.
Kuliah umum yang diselenggarakan oleh FEBI UMK merupakan langkah awal untuk mensukseskan agenda seminar internasional yang dijadwalkan pada akhir tahun ini. (yus)
Tinggalkan Komentar