Memahami Rantai Nilai dan Pasok Produk Nikel

  • home -
  • Memahami Rantai Nilai dan Pasok Produk ...
research
  • 08 Jul
  • 2021

Memahami Rantai Nilai dan Pasok Produk Nikel

Tahun 2019 Indonesia mencatatkan diri sebagai produsen biji nikel terbesar didunia. Tidak kurang dari 800 ribu ton nikel diproduksi pada tahun tersebut. Jauh melewati produksi biji nikel Filipina, Rusia dan negara penghasil nikel lainny dari total 2.67 juta  ton produksi nikel dunia. Tiga negara dengan deposit nikel terbesar dunia yaitu Indonesia menyumbang 21 persen dari total cadangan nikel dunia, Australia sebesar 20 persen dan Brazil mencatatkan 16 persen dari total cadangan nikel dunia.

Dr. Andi Makkawaru, ST.,M.Si menyebutkan Cadangan nikel Indonesia pada tahun 2020  mencapai 33, 29 juta ton dari total 178.15 juta ton cadangan nikel dunia. Cadangan nikel tersebut tersebar di beberapa wilyah di indonesia yaitu Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. “ujarnya saat membewakan kuliah umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari yang mengangkat tema memahami  rantai nilai dan pasok produk nikel (7/7/2021).

Kepala Bidang Sumber Daya Alam Biro Administrasi Perekonomian Sulawesi Tenggara itu mengatakan bahwa saat ini Indonesia menjadi negara terbesar yang memiliki cadangan nikel di dunia.

Dia juga menuturkan, produksi nikel di Indonesia masih lebih banyak di Lateritic Ores dengan produk berupa Luppen/Sponge FeNi, NPI (FeNi), Ferronickel (FeNi) dan Nickel Matte (Ni3S2) hingga sampai pada End Use Nickel.

70 persen First Use Nickel Kita berupa stainless stell. 30 persen lainnya berupa Ni-BASE & Cu-BASE ALLOYS (8%), ALLOY STELL & CASTINGS (8%), PLATING (8%), BATTERIES (5%), Lainnya (1%). Sementara untuk end use nickel lebih banyak digunakan di sector engineering terangnya.

Dari sisi nilai ekonomi, kontribusi sector pertambangan tumbuh signifikan saat belum diberlakukannya kebijakan peningkatan nilai tambah melalui regime UU no.4 tahun 2009. Pada tahun 2006 kontribusi sector pertambangan hanya menyentuh angka 6 persen. Setelah adanya kebijakan hilirisasi sumberdaya mineral logam dan nilai tambah, sector ini berkontribusi lebih bersar terhadap PDRB hingga mencapai 21 persen.

Doktor dibidang teknik geologi ini juga mengingatkan agar tidak menyepelekan sector lain sebagai penyangga perekonomian kita, sebab pertambangan merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui sehingga bila cadangan nikel ini habis bisa bayangkan bagaimana pertumbuhan ekonomi kita bisa jatuh karena terlalu menjadikan sector pertambangan sebagai tulang punggung perekonomian.

Kuliah umum ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa di gedung E Lt. 4 UMK dengan menerapkan protocol kesehatan secara ketat.