Workshop Pembangunan Kawasan Perdesaan FEBI UMK

  • home -
  • Workshop Pembangunan Kawasan Perdesaan F...
research
  • 15 Oct
  • 2016

Workshop Pembangunan Kawasan Perdesaan FEBI UMK

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Muhammadiyah Kendari menggelar workshop Pembangunan Kawasan Perdesaan. Workshop berlangsung selama dua hari tanggal 12 dan 13 Oktober 2016 di Hotel Tahira Kota Kendari. Workshop tersebut merupakan tindak lanjut dari MOA yang pernah disepakati oleh PSP3 Institute Pertanian Bogor dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari.

Agenda utama dalam workshop ini adalah meningkatkan pemahaman konsep pembangunan kawasan perdesaan, proses dan mekanisme pembangunan kawasan perdesaan dan audio visual pendekatan promosi kawasan perdesaan.’ Tutur syamsul anam, dekan FEBI dalam membuka workshop 12/10/2016.

Selanjutnya syamsul menuturkan selama dua hari workshop, hari pertama akan diisi dengan memahami konsep pembangunan kawasan perdesaan dan hari kedua akan diisi dengan proses dan mekanisme pembangunan kawasan perdesaan serta akan di akhiri dengan  audio visual pendekatan promosi kawasan perdesaan.

Workshop ini di hadiri oleh peserta dari berbagai kalangan yang menaruh minat dalam hal pengembangan kawasan perdesaan. Hadiri Pula ketua BPH UMK Sainuddin, SP dan wakil rektor II UMK Mustam, SP.,MSi dalam workshop yang berlangsung hingga sore hari.

Dengan diselenggarakannya workshop ini diharapkan dapat menjadi awal dan media diskusi untuk membagi peran, sharing pengetahuan serta berbagi pengalaman untuk pembangunan kawasan perdesaan di Sulawesi tenggara.

Direkturtur Drone Desa PSP3 IPB Dr. Sofyan Sjaf Selaku Narasumber pada workshop tersebut menyatakan bahwa kita punya kerjasama dengan beberapa kementerian yang memvisualkan desa dan kawasan pedesaan, dan mungkin kita bisa berbagi peran juga apa yang bisa kita lakukan untuk bersama-sama mengawal nanti. Paling tidak saya sepakat Sulawesi tenggara kita selesaikan dan kita bangun satu jaringan penting untuk pebangunan kawasan kedepan.

Sofyan juga memberikan sebuah ilustrasi penting dimana orang banyak berbicara tentang desa tetapi tidak mengikuti dengan baik bagaimana posisis desa di Indonesia desa saat ini. Dari tujuh puluh lima ribu sekian desa di Indonesia terdapata kurang lebih 68 persen, 73.4 persen ini desa desa tipologi pertanian.

Kita masih banyak mengimpor kebutuhan pokok kita, bahkan garam dan cakalangpun kita impor. Padahal kita punya potensi itu. Khususnya di desa. Artinya kita punya potensi yang belum dimaksimalkan tambahnya.

Apalagi didesa masih kita temukan kesenjangan pengetahuan yang terjadi, kesenjangan ini lahir dari kesenjangan informasi, maka kemudian kalau kita tidak mengambil peran untuk memutuskan mata rantai ini maka proses penghambat percepatan pembangunan tetap akan terjadi. Pegiat dan pemerhati desa harus melihat ini dan memutus rantai ini sehingga mainstrim desa ini bisa diretas.

Rata rata desa tertinggal di Indonesia lebih dari 50 persen disetiap provinsi kecuali jawa. Dana desa lebih dari 60 persen ada di jawa. Jumlah desa di pulau jawa lebih banyak. oleh Karena itu alokasi dana juga lebih banyak.

Sebagai catatan penutup direktur drone desa PSP3 IPB menuturkan kawasan perdesaan adalah jalan cepat pembangunan  desa yang meletakkan kerjasama antar desa. Membangun desa sama dengan membangun kawasan sama dengan membangun daerah yang pada akhirnya kawasan peresaan adalah milik daerah, bukan pemerintah. Critical point dari kawasan perdesaan adalah penataan ruang, kelembagaan (Ekonomi dan Pengelolaan), dan penguatan kapasitas dan terahir Blud  adalah alternatif untuk membangun sistem pembiayaan kawasan perdesaan.

Workshop kemudian dilanjutkan di hari kedua terkait dengan proses dan mekanisme pembangunan kawasan perdesaan serta audio visual pendekatan promosi kawasan perdesaan. (yus)